Jalinpena.or.id – Upaya meningkatkan kemampuan peserta didik berkesulitan belajar tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan akademik. Aspek sosial dan emosional juga menjadi bagian penting yang perlu mendapatkan perhatian, terutama karena peserta didik berkesulitan belajar dapat menghadapi tekanan akademik, rendahnya kepercayaan diri, hingga persoalan dalam relasi sosial.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam penelitian disertasi Redydian Aditya Nugraha pada Program Doktor Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS). Penelitian berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Sosioemosional Berbasis Augmented Reality untuk Meningkatkan Resiliensi Peserta Didik Berkesulitan Belajar di Sekolah Dasar Inklusi” mengembangkan media pembelajaran yang kemudian diberi nama SEAKAR (Sosio Emosional Akademik Kolaboratif Berbasis Augmented Reality).
Mengintegrasikan Tiga Disiplin Ilmu
Salah satu aspek yang menjadi kebaruan penelitian ini adalah upaya mengintegrasikan tiga disiplin ilmu, yakni Pendidikan Khusus, Psikologi Pendidikan, dan Teknologi Pembelajaran.
Ketiga bidang tersebut dipadukan untuk menjawab persoalan resiliensi peserta didik berkesulitan belajar. Penelitian ini berangkat dari kondisi bahwa kajian mengenai peserta didik berkesulitan belajar masih banyak berorientasi pada aspek akademik, sementara intervensi berbasis teknologi untuk memperkuat resiliensi masih terbatas.
Di sisi lain, pemanfaatan augmented reality selama ini lebih banyak diarahkan pada pembelajaran kognitif, seperti sains dan matematika. Pemanfaatannya dalam ranah afektif dan penguatan resiliensi, khususnya bagi peserta didik berkesulitan belajar, masih relatif terbatas.
Melalui pendekatan tersebut, teknologi tidak ditempatkan sekadar sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman sosial dan emosional yang lebih konkret. Peserta didik dapat mengenali situasi, merefleksikan emosi, serta belajar memilih respons yang lebih adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan.
Dalam konteks SD, peserta didik berkesulitan belajar membutuhkan sistem dukungan yang tidak bersifat seragam. Tidak semua peserta didik memerlukan bentuk bantuan yang sama. Sebagian peserta didik cukup terbantu melalui pembelajaran kelas yang berkualitas, sebagian lain membutuhkan intervensi kelompok kecil, dan sebagian lainnya memerlukan pendampingan individual yang lebih intensif. Oleh karena itu, pendekatan Multi-Tiered System of Supports atau MTSS menjadi relevan, karena MTSS merupakan kerangka dukungan berlapis yang mengintegrasikan dukungan akademik, perilaku, dan sosial-emosional berdasarkan data serta tingkat kebutuhan peserta didik (Nitz et al., 2023; Kearney et al., 2021).
MTSS menempatkan pencegahan dan intervensi dini sebagai prinsip utama. Pada Tier 1, seluruh peserta didik memperoleh pembelajaran berkualitas, iklim kelas yang aman, dan dukungan sosial-emosional universal. Pada Tier 2, peserta didik yang menunjukkan risiko akademik atau sosial-emosional memperoleh intervensi tambahan dalam kelompok kecil. Pada Tier 3, peserta didik dengan kebutuhan yang lebih kompleks memperoleh intervensi individual yang intensif dan berkelanjutan. Kerangka ini penting bagi peserta didik berkesulitan belajar karena memungkinkan sekolah mengenali kebutuhan siswa secara lebih awal dan memberikan respons pendidikan yang lebih tepat sebelum hambatan akademik dan emosional berkembang menjadi masalah yang lebih berat (Nitz et al., 2023; Sinclair et al., 2025).
Dari Pembelajaran Akademik Menuju Penguatan Resiliensi
Penelitian ini menempatkan resiliensi sebagai faktor protektif bagi peserta didik berkesulitan belajar. Resiliensi memungkinkan peserta didik tetap bertahan dan berkembang meskipun menghadapi tekanan akademik maupun sosial. Karena itu, penguatan resiliensi dipadukan dengan pembelajaran sosioemosional atau Social Emotional Learning (SEL).
Media yang dikembangkan tidak hanya berupa teknologi AR. Produk penelitian mencakup media pembelajaran sosioemosional yang dilengkapi aplikasi AR dan digunakan untuk mendukung guru dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosional peserta didik. Media tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan kapasitas resiliensi peserta didik berkesulitan belajar.
Pendekatan tersebut juga didukung teori experiential learning yang menekankan pengalaman konkret, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen aktif. Dengan teknologi imersif, pengalaman belajar dapat dibuat lebih interaktif dan memungkinkan peserta didik menghadapi situasi simulatif secara aman namun bermakna.
SEAKAR Dinilai Layak dan Efektif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa media SEAKAR memiliki tingkat validitas dan kelayakan yang tinggi berdasarkan penilaian para ahli dan calon pengguna. Media ini dinilai layak digunakan dalam pembelajaran bagi peserta didik berkesulitan belajar di sekolah dasar inklusif.
Dari sisi efektivitas, penerapan media SEAKAR menunjukkan adanya peningkatan resiliensi peserta didik setelah mengikuti pembelajaran. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa media pembelajaran sosioemosional yang dikembangkan memberikan pengaruh yang kuat dalam memperkuat resiliensi peserta didik berkesulitan belajar.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi pembelajaran bagi peserta didik berkesulitan belajar dapat dikembangkan tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga untuk membangun kemampuan menghadapi tekanan, mengelola emosi, dan beradaptasi secara positif.
Dengan demikian, SEAKAR menawarkan pendekatan pembelajaran yang mempertemukan pendidikan khusus, psikologi pendidikan, dan teknologi pembelajaran dalam satu inovasi. Gagasan ini sekaligus memperkuat arah pendidikan inklusif yang memandang peserta didik secara utuh—bukan hanya dari capaian akademiknya, tetapi juga dari kemampuan sosial, emosional, dan daya lentingnya.
Penelitian ini merupakan disertasi Redydian Aditya Nugraha pada Program Doktor Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Sebelas Maret. Ujian Tertutup Promosi Doktor dilaksanakan pada 25 Mei 2026 di Surakarta.

